Lebih dari 3.000 orang—sebagian besar anak-anak—diduga keracunan setelah menyantap menu MBG (Makan Bergizi Gratis) sejak Selasa (01/09) hingga Jumat (11/09).
Lokasi kejadian beragam. Di antaranya termasuk di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Tana Toraja, Sulawesi Selatan; dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kejadian terbaru terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (11/09).
Setidaknya 333 orang siswa dari sejumlah sekolah di Lombok Tengah, termasuk SDN Beber, SD Mertak Kesambik, dan MTs Qudratun Hasanah, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG.
Menunya di antaranya kulit kebab, daging ayam, stik tempe, timun dan selada, serta salak.
Berdasarkan laporan awal, hidangan MBG disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu, yang berada di bawah naungan Yayasan Budi Sain Mangkling.
Pendistribusian makanan ke sejumlah sekolah dilaporkan dimulai pada pukul 08.15 WITA, lalu dibagikan kepada para siswa sekitar pukul 09.00 WITA.
Akhir dari content
Namun, beberapa jam kemudian, sejumlah siswa mulai merasakan gejala keracunan.
Akhir dari Paling banyak dibaca
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Akhir dari Whatsapp
Para korban dilaporkan mengalami gejala khas keracunan makanan, seperti pusing, mual, muntah, nyeri pada mulut atau perut, lemas, sesak napas, hingga diare, sehingga terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Ratusan siswa tersebut sempat mendapatkan perawatan di sejumlah puskesmas. Rinciannya, 51 pasien dirawat di Puskesmas Mantang, 86 pasien di Puskesmas Aik Darek, 180 pasien di Puskesmas Pringgarata, dan 16 pasien di Puskesmas Bagu.
Hingga sekitar pukul 21.00 WITA, sebagian besar pasien disebut telah diperbolehkan pulang. Namun, sejumlah korban kembali mendatangi Puskesmas Pringgarata setelah kembali merasakan gejala-gejala.
Salah satu orangtua siswa, Asnah, mengatakan dirinya kembali membawa anaknya ke puskesmas setelah kondisi sang anak kembali memburuk.
Sebelumnya, anaknya sempat diperbolehkan pulang setelah mendapat pemeriksaan dokter.
"Pas siang tadi, sama dokter disuruh pulang, tapi sore, dia muntah lagi tiga kali," kata Asnah.
Menurut Asnah, anaknya juga mengeluhkan sakit dada, pusing, dan mual. Ia kini masih menunggu kepastian dari dokter mengenai kondisi anaknya.
Polres Lombok Tengah disebut telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi SPPG terkait. Pihak kepolisian telah memanggil dan memeriksa kepala SPPG, kepala dapur, serta kepala yayasan.
"Nanti kita lihat, pasti kita akan kawal," kata Kapolresta Lombok Tengah Kombes Pol Heriyanto, dilansir Kompas.com .
SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut juga telah diberhentikan sementara.
Kejadian terbaru sebelumnya terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Rabu (09/09).
Sebanyak 231 siswa dari tiga sekolah, yakni SMP Negeri 1 Gembong, MTs Negeri 3 Pati, dan MTs Mambaul Ulum, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG.
Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan bahwa rata-rata siswa mengalami gejala pusing, mual, serta gangguan pencernaan.
"Saat ini mereka tersebar di tiga faskes, ada di Puskesmas Gembong, RSUD Suwondo dan RS Mitra Bangsa," sebut Chandra pada Rabu (09/09).
Terdapat 92 siswa yang dirawat di Puskesmas Gembong, sementara enam orang menjalani rawat inap, dan 86 orang harus dirawat jalan.
Kemudian, 98 siswa dirawat di RSUD Suwondo, dan 41 siswa dirawat di RS Mitra Bangsa.
"Tadi kami sudah mengirimkan ambulans dan dari Polres juga sudah mengirimkan dokter," imbuhnya.
Ia menyebut akan melakukan pengecekan seluruh SPPG di Pati, guna memitigasi supaya tidak terjadi kembali kejadian yang sama.
" Sample -nya akan kita kirim ke Dinas Kesehatan Provinsi untuk dilakukan pengecekan," ujarnya.
Menurut Kepala Sekolah MTS Negeri 3 Pati, Zaenal Arifin, keracunan ini diduga akibat menu MBG yang disantap pada Selasa (08/09), yang terlambat disalurkan. Menu hari itu adalah nasi bakar ayam suwir dengan lauk telur ceplok, orek tempe, lalapan, serta kerupuk udang dan semangka.
Makanan ini diproduksi SPPG Gembong 1 Ngembes.
"Sekitar jam 12 an lebih (datangnya), sehingga anak-anak yang biasanya jadwal untuk makan jam 11.20, sehingga anak-anak salat jamaah itu masih belum belum datang," jelasnya.
Gejala keracunan sudah muncul sejak Selasa malam. Guru di sekolah tersebut juga diduga terdampak, karena ada sekitar 30 orang yang turut mengonsumsi menu MBG hari Selasa.
"Guru juga ada yang terdampak, cuman datanya belum tahu, karena masih sama-sama panik," imbuhnya.
Terpisah, Kepala SMP Negeri 1 Gembong, Istiana, juga menyebut menu MBG Selasa datang terlambat.
Istiana mengaku, MBG tiba di sekolahnya sekitar pukul 11.30 WIB lebih. Padahal, secara aturan, tidak boleh dimakan lebih dari jam 12, sehingga sekolah buru-buru membagikan makanan.
Namun, kondisi tak diinginkan tetap menimpa para siswanya.
"Tadi pagi itu anak-anak kok banyak yang ke kamar mandi, kemudian kami tanya, ternyata mereka memang sudah merasakan mual-mual itu," jelasnya.